Hari Selasa kemaren gue masuk siang, ga siang juga sih, maksudnya jam 9an gitu. Pas gue lagi siap-siap, ada telpon. Gue bingung, siapakah gerangan yang menelpon di bawah jam 12 siang begini? Daripada telponnya bunyi terus, jadinya gue angkat, yang ngangkat mas-mas.
Gue : Halo.
Mas-mas : Halo. Selamat Pagi. Apa benar ini rumahnya Bapak Fadli (bokap gue)?
Gue : Iya benar.
Mas-mas : Sebelumnya mohon maaf, saya bicara dengan siapa ya?
Gue : Anaknya (Bapak Fadli).
Mas-mas : Kalau boleh tahu, nama mbak siapa ya?
BUSET! GUE DIPANGGIL MBAK! LO PIKIR UMUR GUE 50 TAHUN??
Gue mikir, nama malem apa nama siang yang gue kasih.
Gue : Emm, Lia, eh, Fairuz.
Mas-mas : Oke, mbak Yulia, Mbak Yulia Fairuz Permatasari?
Whaat? Woi, Lia woy, L-I-A
Gue : Engg... Iya (iya iya aja, biar cepet)
Mas-mas : Oke, Mbak Yulia, saya Anto (nama disamarkan demi kepentingan pribadi), saya dari ****** (operator telepon ternama), mau menawarkan modem...
Yaudah, selama pembicaraan mesra Mbak Yulia Fairuz Pematasari dan Mas Anto berlangsung, gue iya iya aja, biar cepet urusannya.
Maafkan aku Mas Anto, walaupun suara mas sepertinya menunjukkan mas itu ganteng seperti Brendon Urie, tetapi ayahku tercinta sudah memasang modem...